Aneh, sungguh aneh!
Setelah mandi cahaya tadi pagi, aku pun beranjak ke musholla untuk sholat dhuha.
Ibarat baterai, sel tubuh yang telah menyerap energi matahari menjadi sangat aktif, bertenaga.
Getaran triliunan sel dalam tubuh memang membuat badan menjadi segar, namun ada bahaya di balik itu.
Keangkuhan. Kesombongan.
Energi yang apabila diolah bisa menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Badan seperti diselimuti perisai bak Iron Man. Kekuatan inilah yang sering menjerumuskan orang yang belum kuat elingnya sehingga lupa daratan. Kekuatan berubah menjadi keangkuhan.
Karena itu, biasanya perlu proses normalisasi energi agar tidak terjebak dalam nafsu dan angan-angan. Energi tadi harus di NOL kan. Diluruhkan kembali dengan sholat.
Disinilah keanehan terjadi padaku.
Dengan kondisi tubuh yang tenang, nafas yang teratur, dan gerakan yang tuma'ninah kutunaikan sholat. Semua syarat untuk eling terpenuhi. Namun pikiranku tidak bisa diam. Bergerak liar tak beraturan.
Aku tidak bisa eling!
Pikiran itu kolar-kilir berputar tak mau tenang. Ada yang salah neh, tapi aku tak tau apa. Outer kah?
Bisa jadi itu pengaruh outer, bisa jadi juga bukan. Yang aku tahu, harus ada tindakan atas kasus ini. Setelah sholat. Aku duduk bersila. Dan terbersitlah setitik pencerahan. Eureka!
Sayyidul Istighfar.
Ya, kalau prajurit istighfar saja tidak cukup untuk menghalau outer. Saatnya sang jenderal turun tangan. Penghulunya kalimat istighfar.
Bacaan sayyidul istighfar cukup panjang. Tapi bisa selesai dibaca dalam satu hembusan nafas.
Kupersiapkan diri. Ambil posisi duduk bersila. Punggung tegak lurus. Wajah menatap lurus kedepan. Mata terbuka. Lalu kupuntir biji tasbih perlahan.
Lalu mengalirlah ketenangan seiring luruhnya ketegangan dalam setiap hembusan nafasku. Secara alamiah hal itu terjadi. Dipungkiri atau tidak. Teknik relaksasi dengan mengatur nafas memang ampuh untuk mengurai ketegangan fisik, hati, dan pikiran. Apalagi ditambah bacaan sayyidul istighfar yang berisi pengakuan dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Begitulah, kutarik nafas sedalam-dalamnya. Lalu dengan tenang kulepas mengiringi bacaan yang sangat dalam maknanya itu. Tanpa diniatkan, setiap satu bacaan selesai, nafas pun habis di bagian bawah perut. Selaras begitu sampai lama kelamaan nafasku hilang. Hah?
Sedikit kaget aku menyadari hal itu. Kemarin aku pernah kehilangan nafas dalam keadaan berbaring. Tapi ini dalam keadaan duduk?
Hilangnya nafas identik dengan tubuh yang sangat rileks. Sebenarnya aku masih bernafas, tapi saking halusnya, nafas tersebut seperti lenyap. Seakan-akan tidak bernafas dengan paru-paru.
Karena badan sudah sangat rileks. Secara alamiah eling tercipta. Dan entah kenapa saat ini rasa kantuk tidak menyerangku. Mungkin karena masih pagi dan sisa energi matahari membuat kesadaranku lebih kuat.
Aku hening.
Ketika eling menguat. Pandangan mata jadi terang. Batin diam. Tak nampak satupun pikiran yang lewat. Hening.
Bahkan bacaan istighfar pun terhenti dengan sendirinya. Kucoba untuk melantunkannya. Tidak bisa. Macet.
Akhirnya aku diam dalam hening.
Sekian menit berlalu. Masih hening yang mengasyikkan. Tak lama, katup mataku pun menutup.
Aku berpindah dimensi.
Dimensi dalam yang berbeda dengan luar. Aneh tapi begitulah adanya. Sepucuk kulit mata mampu memisahkan dua dunia.
Di dalam sini, baru terlihat satu-dua pikiran yang muncul malu-malu. Tapi ketika kuperhatikan dengan seksama. Mereka menghilang. Kabur.
Seperti main petak umpet.
Lalu kubiarkan mereka timbul tenggelam. Dan kunikmati rasa hening yang jarang kudapati ini.
Seperti di surga. Tiada cemas. Tiada takut. Tiada beban.
Aku merasa hidup. Sangat hidup. Aliran energi yang menentramkan itu membuatku merasa sangat hidup.
Aku tenggelam dalam kehidupan. Seakan aku akan hidup selamanya.
Aku tersentak!
Energi itu adalah Yang Hidup!
No comments:
Post a Comment