Aneh, sungguh aneh!
Setelah mandi cahaya tadi pagi, aku pun beranjak ke musholla untuk sholat dhuha.
Ibarat baterai, sel tubuh yang telah menyerap energi matahari menjadi sangat aktif, bertenaga.
Getaran triliunan sel dalam tubuh memang membuat badan menjadi segar, namun ada bahaya di balik itu.
Keangkuhan. Kesombongan.
Energi yang apabila diolah bisa menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Badan seperti diselimuti perisai bak Iron Man. Kekuatan inilah yang sering menjerumuskan orang yang belum kuat elingnya sehingga lupa daratan. Kekuatan berubah menjadi keangkuhan.
Karena itu, biasanya perlu proses normalisasi energi agar tidak terjebak dalam nafsu dan angan-angan. Energi tadi harus di NOL kan. Diluruhkan kembali dengan sholat.
Disinilah keanehan terjadi padaku.
Dengan kondisi tubuh yang tenang, nafas yang teratur, dan gerakan yang tuma'ninah kutunaikan sholat. Semua syarat untuk eling terpenuhi. Namun pikiranku tidak bisa diam. Bergerak liar tak beraturan.
Aku tidak bisa eling!
Pikiran itu kolar-kilir berputar tak mau tenang. Ada yang salah neh, tapi aku tak tau apa. Outer kah?
Bisa jadi itu pengaruh outer, bisa jadi juga bukan. Yang aku tahu, harus ada tindakan atas kasus ini. Setelah sholat. Aku duduk bersila. Dan terbersitlah setitik pencerahan. Eureka!
Sayyidul Istighfar.
Ya, kalau prajurit istighfar saja tidak cukup untuk menghalau outer. Saatnya sang jenderal turun tangan. Penghulunya kalimat istighfar.
Bacaan sayyidul istighfar cukup panjang. Tapi bisa selesai dibaca dalam satu hembusan nafas.
Kupersiapkan diri. Ambil posisi duduk bersila. Punggung tegak lurus. Wajah menatap lurus kedepan. Mata terbuka. Lalu kupuntir biji tasbih perlahan.
Lalu mengalirlah ketenangan seiring luruhnya ketegangan dalam setiap hembusan nafasku. Secara alamiah hal itu terjadi. Dipungkiri atau tidak. Teknik relaksasi dengan mengatur nafas memang ampuh untuk mengurai ketegangan fisik, hati, dan pikiran. Apalagi ditambah bacaan sayyidul istighfar yang berisi pengakuan dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Begitulah, kutarik nafas sedalam-dalamnya. Lalu dengan tenang kulepas mengiringi bacaan yang sangat dalam maknanya itu. Tanpa diniatkan, setiap satu bacaan selesai, nafas pun habis di bagian bawah perut. Selaras begitu sampai lama kelamaan nafasku hilang. Hah?
Sedikit kaget aku menyadari hal itu. Kemarin aku pernah kehilangan nafas dalam keadaan berbaring. Tapi ini dalam keadaan duduk?
Hilangnya nafas identik dengan tubuh yang sangat rileks. Sebenarnya aku masih bernafas, tapi saking halusnya, nafas tersebut seperti lenyap. Seakan-akan tidak bernafas dengan paru-paru.
Karena badan sudah sangat rileks. Secara alamiah eling tercipta. Dan entah kenapa saat ini rasa kantuk tidak menyerangku. Mungkin karena masih pagi dan sisa energi matahari membuat kesadaranku lebih kuat.
Aku hening.
Ketika eling menguat. Pandangan mata jadi terang. Batin diam. Tak nampak satupun pikiran yang lewat. Hening.
Bahkan bacaan istighfar pun terhenti dengan sendirinya. Kucoba untuk melantunkannya. Tidak bisa. Macet.
Akhirnya aku diam dalam hening.
Sekian menit berlalu. Masih hening yang mengasyikkan. Tak lama, katup mataku pun menutup.
Aku berpindah dimensi.
Dimensi dalam yang berbeda dengan luar. Aneh tapi begitulah adanya. Sepucuk kulit mata mampu memisahkan dua dunia.
Di dalam sini, baru terlihat satu-dua pikiran yang muncul malu-malu. Tapi ketika kuperhatikan dengan seksama. Mereka menghilang. Kabur.
Seperti main petak umpet.
Lalu kubiarkan mereka timbul tenggelam. Dan kunikmati rasa hening yang jarang kudapati ini.
Seperti di surga. Tiada cemas. Tiada takut. Tiada beban.
Aku merasa hidup. Sangat hidup. Aliran energi yang menentramkan itu membuatku merasa sangat hidup.
Aku tenggelam dalam kehidupan. Seakan aku akan hidup selamanya.
Aku tersentak!
Energi itu adalah Yang Hidup!
Perjalanan ke Titik Cahaya
Friday, March 22, 2013
Wednesday, March 20, 2013
Lightbathing
Bangun tidur kuterus mandi...
Kalau yang tidur adalah kesadaran. Mandinya pakai apa dong?
Mandi cahaya!
Itulah shortcut yang diberikan guru untuk menguatkan kesadaran.
Mandi cahaya atau mandi matahari adalah ritual menyerap energi matahari yang dilakukan saat matahari terbit.
Sunbathing. Kata bule. Lightbathing. Kataku.
Mengapa lightbathing? Karena tujuan dari ritual ini selain untuk merangsang sel tubuh sehingga menjadi lebih peka terhadap getaran, juga membuatnya lebih bertenaga.
Seperti solar cell yang mampu menyerap energi panas matahari dan mengkonversinya menjadi listrik.
Apabila solar cell yang notabene adalah benda mati saja bisa sehebat itu, apa jadinya kalau energi matahari tersebut diserap dan diolah sel tubuh manusia yang berjumlah 50-75 trilliun?
Dan tentunya sel tubuh kita lebih kompleks dan beragam, lebih canggih.
Ionisasi atau aktivasi sel tubuh akan menjadikan setiap sel menjadi lebih 'hidup'. Lebih aktif.
Dan yang lebih utama, aktifitas triliunan sel yang bergetar serentak akan membuat kesadaran kita 'ngeh' kalau mereka hidup.
Kapan terakhir kali kita menyadari kalau sel kulit kita sebenarnya hidup?
Tidak pernah!
Mereka hidup seperti halnya sel makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Karena siklus hidup mereka begitu pendek dan ukurannya yang mikro membuat kita tidak aware kalau jutaan sel kulit ini mati setiap hari dan digantikan dengan sel lainnya secara otomatis. Sistematis.
Saatnya bilang WOW? Belum..
Sel tubuh yang telah terionisasi juga akan mampu menggetarkan dan mendeteksi energi makhluk hidup di dekatnya. Termasuk outer energi.
Resonansi.
Hukum saling getar-menggetar yang cetar membahana.
Masih ingat tentang garputala? Apabila ujung yang kanan dipukul, dia akan bergetar. Getaran itu akan merangsang ujung kiri garputala yang sebelumnya diam untuk turut bergetar. Begitulah sel kita bereaksi terhadap energi sekitar, atau sebaliknya.
Apa gunanya bisa resonansi? Sebut saja diantaranya automatic defense system, magnetic shield, radar atau detection, gamma radiation, healing, mind controlling, scanning, energy manipulation (fire bending, air bending, sound bending) dan lainnya.
Saatnya bilang WOW!!
Tubuh manusia adalah satu kesatuan sistem yang paling canggih yang pernah ada. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan 'tanganNya' sendiri. Insan kamil.
"Sesungguhnya kami ciptakan manusia dengan bentuk yang TERBAIK"
Ukuran terbaik disini adalah ukuran Tuhan. Bukan kita. Yang berarti undefined, tak terdefenisikan. Bisa dibilang, hanya Dia sendiri yang tahu seberapa hebat kemampuan ciptaannya ini.
"Lalu kami tempatkan (default setting) mereke ke derajat yang paling rendah diantara yang terendah"
Lagi lagi, rendah kata Tuhan itu tiada terkira rendahnya.
"Kecuali orang yang beriman (believe) dan beramal saleh (do and train the right exercise), maka bagi mereka ganjaran (power, ability, wealth) yang TANPA BATAS (limitless).
Tanpa batas kata Tuhan itu luaaa..rrr biasa hebat. Karena batasnya Dia sendiri yang menentukan, bukan kita.
Jadi "cheat code" nya telah di berikan. Yaitu believe dan do the right exercise.
Latihan seperti apa?
Lightbathing...
Tidak! Kamu salah! Kamu mendangkalkan makna alqur'an! Kamu sesat!!
Sama sekali tidak. Karena lightbating hanyalah permulaan yang paling awal. Rangkaian training itu akan terbentang di sepanjang hidup kita.
Pahamilah bahwa apa yang akan kusampaikan dapat mengguncang kepercayaan anda.
Take it, or leave it... NOW!
Kusarankan anda membaca ulang tulisan ini dari awal.
Sudah ketemu jawabannya?
Kalau belum. Baca sekali lagi. Perlahan-lahan.
Yap, benar sekali. Kunci utama dari semua ini adalah KESADARAN.
Karena kesadaran inilah yang dibutuhkan agar exercise atau amal sholeh kita selanjutnya dapat dikerjakan dengan BENAR. Karena kalau tidak benar, amal kita tidak akan sholeh.
Dan lightbathing adalah ritual untuk menguatkan kesadaran.
Sesimple itu. Tidak ada yang disembunyikan disini.
Jadi karena itulah mengapa aku sekarang berada di tengah sawah. Tempat yang paling pas untuk menunggu matahari terbit.
Kuhirup nafas dalam dalam. Segar menyesaki dada. Tidak ada yang lebih menyehatkan selain udara pagi, bukan?
Matahari pun muncul. Sedikit demi sedikit memancarkan sinarnya. Aku menikmati cahaya yang terang tapi tidak menyilaukan selama beberapa saat.
Kutatap matahari yang masih perawan pagi ini dengan mata terbuka. Sinarnya lembut memasuki retinaku. Kurasakan pupilku mengecil. Menyisakan sedikit ruang untuk setitik cahaya memasuki ruang kornea. Menggetarkannya.
Begitu hangat itu membuat mataku silau. Kututup kelopak mata dan kunikmati cahaya yang merayap di kulitku. Setiap sel bergemuruh menyambut gembira rasa hangat yang nyaman itu.
Dan terjadilah, getaran sel yang terangsang cahaya menyeruak masuk ke permukaan kesadaranku.
Aku dapat merasakan setiap inci tubuhku, setiap butiran selku, yang bergetar halus tergerus panas. Aku MENYADARINYA.
Dan tahulah aku bahwa mereka memang hidup. Sebenarnya, Aku menjadi hidup karena mereka hidup.
Seiring getaran yang menguat karena panas. Kurasakan energi mengaliri tubuhku. Mereka, triliunan sel itu, menyerap cahaya matahari. Menyimpannya. Menunggu untuk diolah.
Kuatur nafas. Kuamati gerak pikiranku yang sekarang tak dapat bersembunyi lagi. Jelas di batinku lalu-lalang mereka yang selama ini tidak terdeteksi.
Kubuang nafas. Kuluruhkan semua keriuhan di kepala dan hatiku seiring nafas yang terhembus. Kukeluarkan semua pikiran, sakit hati, emosi terpendam dan semua masalahku agar terbakar oleh sang surya.
Lega. Hening. Diam.
Setiap nafas yang terhembus. Pikiran yang terbuang. Emosi yang luruh. Membuat kesadaranku naik makin tinggi. Makin kuat.
Kesadaranku meluas tanpa batas.
Tiba-tiba, aku menjadi solar cell. Menjadi daun. Menjadi bumi yang dicumbu matahari setiap pagi.
Menjadi semesta cahaya.
Kalau yang tidur adalah kesadaran. Mandinya pakai apa dong?
Mandi cahaya!
Itulah shortcut yang diberikan guru untuk menguatkan kesadaran.
Mandi cahaya atau mandi matahari adalah ritual menyerap energi matahari yang dilakukan saat matahari terbit.
Sunbathing. Kata bule. Lightbathing. Kataku.
Mengapa lightbathing? Karena tujuan dari ritual ini selain untuk merangsang sel tubuh sehingga menjadi lebih peka terhadap getaran, juga membuatnya lebih bertenaga.
Seperti solar cell yang mampu menyerap energi panas matahari dan mengkonversinya menjadi listrik.
Apabila solar cell yang notabene adalah benda mati saja bisa sehebat itu, apa jadinya kalau energi matahari tersebut diserap dan diolah sel tubuh manusia yang berjumlah 50-75 trilliun?
Dan tentunya sel tubuh kita lebih kompleks dan beragam, lebih canggih.
Ionisasi atau aktivasi sel tubuh akan menjadikan setiap sel menjadi lebih 'hidup'. Lebih aktif.
Dan yang lebih utama, aktifitas triliunan sel yang bergetar serentak akan membuat kesadaran kita 'ngeh' kalau mereka hidup.
Kapan terakhir kali kita menyadari kalau sel kulit kita sebenarnya hidup?
Tidak pernah!
Mereka hidup seperti halnya sel makhluk hidup lainnya di muka bumi ini. Karena siklus hidup mereka begitu pendek dan ukurannya yang mikro membuat kita tidak aware kalau jutaan sel kulit ini mati setiap hari dan digantikan dengan sel lainnya secara otomatis. Sistematis.
Saatnya bilang WOW? Belum..
Sel tubuh yang telah terionisasi juga akan mampu menggetarkan dan mendeteksi energi makhluk hidup di dekatnya. Termasuk outer energi.
Resonansi.
Hukum saling getar-menggetar yang cetar membahana.
Masih ingat tentang garputala? Apabila ujung yang kanan dipukul, dia akan bergetar. Getaran itu akan merangsang ujung kiri garputala yang sebelumnya diam untuk turut bergetar. Begitulah sel kita bereaksi terhadap energi sekitar, atau sebaliknya.
Apa gunanya bisa resonansi? Sebut saja diantaranya automatic defense system, magnetic shield, radar atau detection, gamma radiation, healing, mind controlling, scanning, energy manipulation (fire bending, air bending, sound bending) dan lainnya.
Saatnya bilang WOW!!
Tubuh manusia adalah satu kesatuan sistem yang paling canggih yang pernah ada. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan 'tanganNya' sendiri. Insan kamil.
"Sesungguhnya kami ciptakan manusia dengan bentuk yang TERBAIK"
Ukuran terbaik disini adalah ukuran Tuhan. Bukan kita. Yang berarti undefined, tak terdefenisikan. Bisa dibilang, hanya Dia sendiri yang tahu seberapa hebat kemampuan ciptaannya ini.
"Lalu kami tempatkan (default setting) mereke ke derajat yang paling rendah diantara yang terendah"
Lagi lagi, rendah kata Tuhan itu tiada terkira rendahnya.
"Kecuali orang yang beriman (believe) dan beramal saleh (do and train the right exercise), maka bagi mereka ganjaran (power, ability, wealth) yang TANPA BATAS (limitless).
Tanpa batas kata Tuhan itu luaaa..rrr biasa hebat. Karena batasnya Dia sendiri yang menentukan, bukan kita.
Jadi "cheat code" nya telah di berikan. Yaitu believe dan do the right exercise.
Latihan seperti apa?
Lightbathing...
Tidak! Kamu salah! Kamu mendangkalkan makna alqur'an! Kamu sesat!!
Sama sekali tidak. Karena lightbating hanyalah permulaan yang paling awal. Rangkaian training itu akan terbentang di sepanjang hidup kita.
Pahamilah bahwa apa yang akan kusampaikan dapat mengguncang kepercayaan anda.
Take it, or leave it... NOW!
Kusarankan anda membaca ulang tulisan ini dari awal.
Sudah ketemu jawabannya?
Kalau belum. Baca sekali lagi. Perlahan-lahan.
Yap, benar sekali. Kunci utama dari semua ini adalah KESADARAN.
Karena kesadaran inilah yang dibutuhkan agar exercise atau amal sholeh kita selanjutnya dapat dikerjakan dengan BENAR. Karena kalau tidak benar, amal kita tidak akan sholeh.
Dan lightbathing adalah ritual untuk menguatkan kesadaran.
Sesimple itu. Tidak ada yang disembunyikan disini.
Jadi karena itulah mengapa aku sekarang berada di tengah sawah. Tempat yang paling pas untuk menunggu matahari terbit.
Kuhirup nafas dalam dalam. Segar menyesaki dada. Tidak ada yang lebih menyehatkan selain udara pagi, bukan?
Matahari pun muncul. Sedikit demi sedikit memancarkan sinarnya. Aku menikmati cahaya yang terang tapi tidak menyilaukan selama beberapa saat.
Kutatap matahari yang masih perawan pagi ini dengan mata terbuka. Sinarnya lembut memasuki retinaku. Kurasakan pupilku mengecil. Menyisakan sedikit ruang untuk setitik cahaya memasuki ruang kornea. Menggetarkannya.
Begitu hangat itu membuat mataku silau. Kututup kelopak mata dan kunikmati cahaya yang merayap di kulitku. Setiap sel bergemuruh menyambut gembira rasa hangat yang nyaman itu.
Dan terjadilah, getaran sel yang terangsang cahaya menyeruak masuk ke permukaan kesadaranku.
Aku dapat merasakan setiap inci tubuhku, setiap butiran selku, yang bergetar halus tergerus panas. Aku MENYADARINYA.
Dan tahulah aku bahwa mereka memang hidup. Sebenarnya, Aku menjadi hidup karena mereka hidup.
Seiring getaran yang menguat karena panas. Kurasakan energi mengaliri tubuhku. Mereka, triliunan sel itu, menyerap cahaya matahari. Menyimpannya. Menunggu untuk diolah.
Kuatur nafas. Kuamati gerak pikiranku yang sekarang tak dapat bersembunyi lagi. Jelas di batinku lalu-lalang mereka yang selama ini tidak terdeteksi.
Kubuang nafas. Kuluruhkan semua keriuhan di kepala dan hatiku seiring nafas yang terhembus. Kukeluarkan semua pikiran, sakit hati, emosi terpendam dan semua masalahku agar terbakar oleh sang surya.
Lega. Hening. Diam.
Setiap nafas yang terhembus. Pikiran yang terbuang. Emosi yang luruh. Membuat kesadaranku naik makin tinggi. Makin kuat.
Kesadaranku meluas tanpa batas.
Tiba-tiba, aku menjadi solar cell. Menjadi daun. Menjadi bumi yang dicumbu matahari setiap pagi.
Menjadi semesta cahaya.
Monday, March 18, 2013
Partikel Cahaya
Kita semua adalah Partikel Cahaya.
Sebelum terciptanya waktu, di alam azali. Kita belum berbentuk seperti sekarang, bertubuh dan berbadan. Kita masih berupa kesadaran murni yang tidak bernafsu. Kesadaran yang tidak mempunyai keinginan.
Karena tidak mempunyai keinginan, kita pun tak mengenal adanya masalah. Yang ada cuma kebahagiaan. Tiada rasa takut. Tak kenal rasa sedih. Hanya keheningan yang syahdu.
Namun kesyahduan itu terpecah ketika terdengar sebuah suara;
"A lastu bi robbikum?"
Suara yang lembut tapi tegas, dari Sang Cahaya, Pencipta alam semesta.
Kita terdiam. Terhenyak. Tentu saja kita tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Kita hanya bertanya-tanya. Ada apa gerangan tiba-tiba Sang Cahaya bertanya demikian.
"Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?"
Suara tersebut menyadarkan kita.
"balaa syahidnaa" "Tentu saja, kami bersaksi"
Saat itu, terkuak sebuah rencana yang telah lama ditentukan. Bahwa Tuhan semesta alam menghendaki kita menjadi khalifah di alam dunia.
Kita tertunduk patuh. Walaupun kita masih belum mengerti. Untuk apa diutus ke alam dunia? Bukankah disini kita sudah bahagia?
"Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala"
Ternyata begitu, kita pun paham. Tak lain kita harus membuktikan kalau kita layak. Sang Pencipta menghendaki hal yang sederhana atas semua kenikmatan yang telah kita terima: pembuktian cinta.
"Innani Ana Allah, laa ilaaha illa Ana, fa'buduunii"
Tanda cinta itu berupa kepatuhan dan penghambaan.
Kita pun telah diberi 'cheat code' dalam menjalani kehidupan dunia.
"Ingatlah selalu, hanya dengan mengingatKu, berpasrah kepadaKu, kalian bisa tenang di alam dunia. Jangan terkecoh oleh keindahan dunia yang semu. Kutunggu kalian kembali sebagai jiwa yang tenang, kesadaran yang telah mengenal dirinya sendiri"
Sejak itulah, kita, manusia, sang partikel cahaya terlahir ke dunia. Menjalani hidup untuk kembali kepada Sang Cahaya.
Panggung telah dibentang. Lakon telah ditentukan. Sandiwara pun dimulai...
Jalan cerita setiap partikel cahaya tidaklah sama. Untuk itulah kutulis kisahku.
Sebelum terciptanya waktu, di alam azali. Kita belum berbentuk seperti sekarang, bertubuh dan berbadan. Kita masih berupa kesadaran murni yang tidak bernafsu. Kesadaran yang tidak mempunyai keinginan.
Karena tidak mempunyai keinginan, kita pun tak mengenal adanya masalah. Yang ada cuma kebahagiaan. Tiada rasa takut. Tak kenal rasa sedih. Hanya keheningan yang syahdu.
Namun kesyahduan itu terpecah ketika terdengar sebuah suara;
"A lastu bi robbikum?"
Suara yang lembut tapi tegas, dari Sang Cahaya, Pencipta alam semesta.
Kita terdiam. Terhenyak. Tentu saja kita tahu apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Kita hanya bertanya-tanya. Ada apa gerangan tiba-tiba Sang Cahaya bertanya demikian.
"Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?"
Suara tersebut menyadarkan kita.
"balaa syahidnaa" "Tentu saja, kami bersaksi"
Saat itu, terkuak sebuah rencana yang telah lama ditentukan. Bahwa Tuhan semesta alam menghendaki kita menjadi khalifah di alam dunia.
Kita tertunduk patuh. Walaupun kita masih belum mengerti. Untuk apa diutus ke alam dunia? Bukankah disini kita sudah bahagia?
"Liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala"
Ternyata begitu, kita pun paham. Tak lain kita harus membuktikan kalau kita layak. Sang Pencipta menghendaki hal yang sederhana atas semua kenikmatan yang telah kita terima: pembuktian cinta.
"Innani Ana Allah, laa ilaaha illa Ana, fa'buduunii"
Tanda cinta itu berupa kepatuhan dan penghambaan.
Kita pun telah diberi 'cheat code' dalam menjalani kehidupan dunia.
"Ingatlah selalu, hanya dengan mengingatKu, berpasrah kepadaKu, kalian bisa tenang di alam dunia. Jangan terkecoh oleh keindahan dunia yang semu. Kutunggu kalian kembali sebagai jiwa yang tenang, kesadaran yang telah mengenal dirinya sendiri"
Sejak itulah, kita, manusia, sang partikel cahaya terlahir ke dunia. Menjalani hidup untuk kembali kepada Sang Cahaya.
Panggung telah dibentang. Lakon telah ditentukan. Sandiwara pun dimulai...
Jalan cerita setiap partikel cahaya tidaklah sama. Untuk itulah kutulis kisahku.
Setengah Sadar
Malam ini udara begitu cerah. Hawa di Jampang Kulon yang biasanya begitu dingin atau berangin, sekarang terasa syahdu. Sambil menunggu jam 11 malam, aku pun menyeduh segelas moccachino sambil menikmati nyanyian malam.
Waktu bergulir lambat. Itulah yang jamaknya terjadi kalau sedang menunggu sesuatu. Memasuki jam 11, mataku terasa berat, ngantuk.
Yah, walaupun sudah 2 jam tidur siang tadi. Nampaknya aku belum terbiasa dengan siklus tirakat ini. Masih belum teradaptasi. Aku yang biasanya sanggup melek bergadang di depan monitor. Memang jadi ngantuk'an kalau qiyam lail.
Kesadaranku masih tengkurep.
Untuk menegakkan kesadaran eling inilah aku menjalani tirakat. Malam ini adalah malam ke 4 dari 40 malam yang disyaratkan guruku untuk melatih diri. Aku memang biasa qiyam lail, tapi tidak pernah rutin. Mungkin guru tahu akan hal ini. Makanya 40 malam harus kujalani tanpa terputus.
Pembiasaan. Itulah yang kupahami.
Setelah menimbang sejenak, memilih antara lanjut tirakat atau tidur dulu barang satu jam. Aku memutuskan mengambil keputusan kedua. Hal yang sebenarnya agak melenceng dari petuah guru. Karena tidak tidur dalam keadaan mengantuk adalah salah satu aturan dari tirakat ini. Supaya tidak gampang tertidur, begitu kata beliau saat menerangkan peraturan 'aneh' ini.
Tapi aku tidak mengantuk. Aku hanya lelah, batinku.
Tepat beberapa menit menjelang jam 12, aku terbangun. Aneh, pikirku. Aku bahkan bangun sesaat sebelum alarm berbunyi. Menjadi aneh bagiku mengingat betapa bebalnya aku dulu kalau harus bangun tidur. Aku ingat sekali, saat puasa tahun lalu, aku tidak terbangun saat sahur walau pun alarm di hp ku sudah berbunyi, bahkan setelah Nokia xPressMusic-ku itu dsambungkan ke speaker yang volumenya diputar ke ujung paling kanan
Tapi sekarang berbeda. Jadilah aku berangkat ke musholla yang terletak tak jauh dari rumah. Aku merasa pede kalau kali ini aku bisa mengalahkan kantuk.
Ronde pertama, dua rakaat sholat taubat. Tidak ada yang spesial dari malam sebelumnya. Namun terasa kalau sekarang lebih mudah bagiku untuk masuk ke kondisi awal khusyuk. Belum sepenuhnya karena masih banyak berseliweran pikiran di dalam kepalaku.
Waktu bergulir lambat. Itulah yang jamaknya terjadi kalau sedang menunggu sesuatu. Memasuki jam 11, mataku terasa berat, ngantuk.
Yah, walaupun sudah 2 jam tidur siang tadi. Nampaknya aku belum terbiasa dengan siklus tirakat ini. Masih belum teradaptasi. Aku yang biasanya sanggup melek bergadang di depan monitor. Memang jadi ngantuk'an kalau qiyam lail.
Kesadaranku masih tengkurep.
Untuk menegakkan kesadaran eling inilah aku menjalani tirakat. Malam ini adalah malam ke 4 dari 40 malam yang disyaratkan guruku untuk melatih diri. Aku memang biasa qiyam lail, tapi tidak pernah rutin. Mungkin guru tahu akan hal ini. Makanya 40 malam harus kujalani tanpa terputus.
Pembiasaan. Itulah yang kupahami.
Setelah menimbang sejenak, memilih antara lanjut tirakat atau tidur dulu barang satu jam. Aku memutuskan mengambil keputusan kedua. Hal yang sebenarnya agak melenceng dari petuah guru. Karena tidak tidur dalam keadaan mengantuk adalah salah satu aturan dari tirakat ini. Supaya tidak gampang tertidur, begitu kata beliau saat menerangkan peraturan 'aneh' ini.
Tapi aku tidak mengantuk. Aku hanya lelah, batinku.
Tepat beberapa menit menjelang jam 12, aku terbangun. Aneh, pikirku. Aku bahkan bangun sesaat sebelum alarm berbunyi. Menjadi aneh bagiku mengingat betapa bebalnya aku dulu kalau harus bangun tidur. Aku ingat sekali, saat puasa tahun lalu, aku tidak terbangun saat sahur walau pun alarm di hp ku sudah berbunyi, bahkan setelah Nokia xPressMusic-ku itu dsambungkan ke speaker yang volumenya diputar ke ujung paling kanan
Tapi sekarang berbeda. Jadilah aku berangkat ke musholla yang terletak tak jauh dari rumah. Aku merasa pede kalau kali ini aku bisa mengalahkan kantuk.
Ronde pertama, dua rakaat sholat taubat. Tidak ada yang spesial dari malam sebelumnya. Namun terasa kalau sekarang lebih mudah bagiku untuk masuk ke kondisi awal khusyuk. Belum sepenuhnya karena masih banyak berseliweran pikiran di dalam kepalaku.
Subscribe to:
Comments (Atom)